Kebanyakan orang punya pengalaman bermimpi saat tidur. Ada yang mengembirakan, menyedihkan, melucukan dan tidak kurang juga ada yang amat menakutkan. Setiap orang mempunyai pengalaman mimpinya yang tersendiri Yang jelas dari yang aku tau selama ini, mimpi baik datangnya dari Allah, dan sebaliknya mimpi buruk datangnya dari syetan.
Mimpi ada yang membingungkan, di mana kita tidak tahu-menahu peristiwa yang terjadi dan siapa saja yang ada dalam mimpi itu. Namun ada pula mimpi yang begitu nyata yang kemudian benar-benar terjadi, karena itu, banyak orang yang percaya dengan mimpi, bahkan sengaja mencari “orang pintar” untuk mengartikan makna mimpi yang dialaminya.
Aku adalah pemimpi. That’s not mean aku ’penghayal’, tapi memang nyatanya setiap aku tidur meski hanya 5 menit aku selalu bermimpi. Dalam semalam aku bisa bermimpi beberapa episode. Terkadang ketika aku bangun aku merasa lelah. Tak jarang pula aku bermimpi buruk, terutama jika aku lupa berdoa saat sebelum tidur. Bahkan pernah aku bermimpi buruk terus menerus. Hingga saat itu aku menyempatkan diri ikut ’rukiyah massal’ yang diadakan di kotaku. Alhamdulillah tidak ada sesuatu yang menimpaku saat itu. Sebelumnya aku tidak percaya bahwa mimpi buruk adalah pertanda sesuatu yg buruk akan terjadi. Tapi nyatanya, aku pernah bermimpi ’paling buruk’ dalam hidupku dan beberapa waktu kemudian kejadian buruk benar2menimpaku (naudzubillahi min dzalik). Tapi aku tetap berpendapat mimpi adalah bunga tidur. Dan belajar dari pengalaman, bahwa jika kita bermimpi buruk sebaiknya cepat mohon perlindungan Allah dan tidak menceritakannya pada orang lain, begitu pula sebaliknya. Dan satu hal aku tidak akan menanyakan tentang arti dari suatu mimpi kecuali pada orang yang benar2 seijin Allah.(yg kumaksud penafsir mimpi yang syar’i)
Dalam bermimpi, aku pernah mengalami bahwa dalam mimpi itu aku memang sadar sedang bermimpi, dan kejadian yang ada berjalan hampir sesuai harapanku, aneh, tapi jujur aku ingat hal ini pernah terjadi. Selain itu aku pernah bermimpi yang aku tafsirkan sebagai jawaban dari sholat istikharah yang aku lakukan, saat aku bingung memilih hal mana yang terbaik buatku. Aku juga pernah bermimpi indah berada di suatu tempat, yang kemudian menjadi cita2ku berada di tempat yang setidaknya hampir seperti di mimpiku itu, dan beberapa tahun kemudian aku benar2 mengalaminya. Alhamdulillah.
Namun pernah pula dalam suatu masa hidupku, setahun kemarin tepatnya, aku justru enggan untuk bangun dari mimpi. Merasa tak sanggup menghadapi kenyataan hidup, justru membuatku ingin tetap berada dalam mimpi2ku. Parahnya hal ini berlangsung selama hampir 1 bulan. Sungguh ironis dan memalukan. Aku seperti orang yang tidak bisa ikhlas dengan ujian Allah. Namun beberapa waktu kemudian aku sering bermimpi baik. Entah ini hanya karena khayalan dan obsesiku yg terbawa mimpi, atau memang bener2 datang dari Allah.
Seperti kemarin dan beberapa hari yang lalu, aku ’bermimpi baik’ lagi, dan berharap ini akan menjadi nyata. Begitu bangun aku berdoa, bersyukur ma Allah. Aku percaya jika doa atau keinginan kita positif, insyaAllah akan dikabulkan ma Allah.amin
Berikut beberapa artikel tentang mimpi
Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra-indra lain dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep).
Mimpi merupakan sebuah keadaan ketika manusia mengalami suatu kejadian yang memberikan gambaran kehidupan lain yang terkadang bisa memberikan makna dalam kehidupan sesungguhnya.
Mimpi bisa jadi isyarat yang diberikan oleh Allah kepada hambanya berupa berita baik atau buruk dan mimpi ada yang memiliki makna dan ada pula yang berupa mimpi kosong sekadar permainan setan kepada manusia.
Khalid al-Anbari dalam bukunya Kamus Tafsir Mimpi menyebutkan bahwa tanda mimpi yang benar adalah sebagai berikut.
- Bersih dari mimpi kosong, bayangan-bayangan yang meresahkan dan menakutkan.
- Dapat dipahami ketika terjaga.
- Tidur dalam keadaan pikiran jernih, tidak disibukkan oleh persoalan apa pun.
- Mimpi tersebut dapat ditakwilkan sesuai dengan apa yang ada di Lauh Mahfuzh.
Ada juga mimpi yang dianugerahkan Allah kepada yang dikehendakinya agar ia mendapatkan hidayah. Ini berdasarkan riwayat al-Hakim mengenai keislaman seorang seorang sahabat, Khalid bin Sa’id bin ‘Ash. Keislaman ini terjadi setelah Khalid mengalami mimpi yang sangat menyeramkan. Dalam mimpinya, dia melihat seakan-akan ayahnya hendak mendorongnya ke neraka, sementara Rasulullah saw. berusaha memegang pinggangnya agai ia tidak terjatuh. Juga atas dasar tafsiran Ibn Hasyirin ketika ia didatangi seseorang yang bermimpi jari-jari tangannya yang ketiga dan keempat buntung. Ia menakwilkan bahwa mimpi tersebut sebagai peringatan pada orang itu karena shalatnya bolong-bolong. Sepulangnya dari bertemu Ibn Hasyirin, ia pun bertobat.
Seorang yang merasa telah mengalami mimpi yang benar, janganlah bertindak sembrono meminta sembarang orang untuk menakwilkan mimpi yang dialaminya. Janganlah ia menceritakannya kepada orang yang dengki dan dendam dan kepada orang yang jahil yang ucapannya tertolak tetapi ceritakanlah kepada orang yang berilmu, para ulama yang memiliki keutamaan, orang-orang yang dalam pemahaman terhadap dien Islam.
Macam Mimpi
Rasulullah saw. bersabda, “Mimpi itu ada tiga. Mimpi yang baik merupakan kabar gembira dari Allah. Mimpi yang menyedihkan berasal dari setan, dan mimpi yang datang dari obsesi seseorang. Jika salah seorang di antara kalian mimpi yang menyedihkan maka hendaklah dia bangun lalu shalat dan tidak menceritakannya pada orang lain.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw. bersabda, “Mimpi yang baik adalah dari Allah. Sedangkan mimpi yang menakutkan berasal dari setan. Barangsiapa mimpi yang tidak menyenangkan maka hendaklah dia meludah ke sebelah kirinya tiga kali dan berlindung diri kepada Allah dari setan, maka mimpi tersebut tidak akan membahayakannya” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Bertolak dari hadis-hadis di atas, menurut Aam Amiruddin dalam bukunya Menelanjangi Strategi Jin, kita bisa membuat sejumlah kesimpulan.
1. Mimpi bisa terjadi karena suatu obsesi. Obsesi tersebut begitu kuat dalam memori kita sehingga muncul dalam mimpi. Misalnya, seorang pemuda yang terobsesi menikahi Dian Sastro, sangat mungkin dia bermimpi menikah atau bertemu dengannya. Ini adalah mimpi yang bersifat fitriah atau alamiah.
2. Bermimpi yang baik. Mimpi ini datangnya dari Allah, kita wajib mensyukurinya dan boleh menceritakannya pada orang lain sebagai wujud rasa syukur.
3. Mimpi buruk atau menakutkan. Mimpi ini datangnya dari setan. Kita wajib berlindung diri pada Allah, bahkan kalau memungkinkan meludah tiga kali ke sebelah kiri dan jangan menceritakannya pada orang lain –kecuali kalau ingin mengetahui takwil mimpi tersebut. Sebab kalau kita menceritakannya, setan akan merasa senang kalau gangguannya itu menjadi bahan pembicaraan manusia.
Berhati-hatilah jika kita bermimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal, misalnya bertemu dengan ayah atau ibu kita yang sudah wafat, sebab dikhawatirkan setan menyerupainya. Jadi, kalau kita bermimpi bertemu dengan orang yang sudah wafat, sebaiknya bersegeralah berlindung kepada Allah.
Tafsir Mimpi
Seorang penakwil mimpi haruslah orang yang jujur (shidiq), cerdas, cerdik, dan suci dari perbuatan keji. Ia harus mengerti tentang Kitab Allah dan sunah Rasulullah dan ia pun harus paham benar ilmu mentakwilkan mimpi. Ini sejalan dengan apa yang diungkapkan Imam al-Gazali yang menyatakan bahwa fungsi roh sebagai penangkap isyarat Ilahi bagaikan cermin. Dia bisa memantulkan cahaya. Orang yang sidiq merupakan cermin yang paling bersih dan paling bening di mana cahayanya tidak terdistorsi sama sekali. Jadi, dia bisa menangkap isyarat tersebut.
Untuk menjadi seorang penafsir mimpi, ada beberapa etika yang harus diperhatikan, di antaranya adalah menggembirakan saudaranya ketika ia menceritakan mimpinya; tidak menyebarkan mimpi tersebut karena itu merupakan amanah; tidak menakwilkannya dengan tergesa-gesa; jika tidak memungkinkan dirinya menakwilkan mimpi tersebut, jangan ragu untuk melimpahkan kepada orang yang lebih tahu (berilmu) dan jangan merasa berat melakukannya; memperlakukan pelaku mimpi secara berbeda, maksudnya tidak menakwilkan mimpi raja seperti menakwilkan mimpi rakyat, sebab mimpi itu berbeda karena perbedaan kondisi pelakunya; dan sebagainya.
Sangat disayangkan, dewasa ini terlalu banyak orang yang secara sembarangan menakwikan mimpi. Di antara alasan keberanian mereka adalah adalah (1) lemahnya keimanan; (2) lalai dari kehidupan akhirat; (3) cinta kemayhuran; dan (4) kurangnya ilmu.
Dari syarat-syarat yang dikemukakan di atas, tak heran jika ada sebagian masyarakat yang mengharamkan penafsiran mimpi karena dikhawatirkan akan terjebak pada kemusyrikan. Pun dalam buku-buku takwil mimpi, tidak disebutkan secara gamblang tafsiran tersebut. Dalam satu mimpi saja, seorang penakwil bisa megartikan mimpi tersebut menjadi beberapa arti dan tidak ada jaminan mana yang benar. Bahkan mereka pun menganalogikan mimpi tersebut sebagai ramalan cuaca. Kita bisa mengantisipasi cuaca, namun tidak pasti karena Allah yang menentukan. Wallahu a’lam






Tidak ada komentar:
Posting Komentar